Hati Hati Dengan Nyeri Haid

nyeri haidSeparuh dari seluruh perempuan pasti pernah mengalami nyeri perut pada hari pertama atau kedua menstruasi. Kondisi ini disebut dismenore, membuat aktivitas perempuan kadang kala terganggu. Kram saat menstruasi biasanya dirasakan seperti nyeri tumpul, berdenyut di sekitar perut bawah dan menjalar ke pinggang atau paha. Nyeri biasanya dirasakan ketika mulai perdarahan dan akan berlangsung hingga 32-48 jam.

Bahkan ada perempuan yang dismenore diikuti keluhan tambahan seperti rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan dan lekas marah. Gejala dismenore tersebut biasanya membuat perempuan tidak dapat bekerja dan harus tidur. Mekanisme yang terjadi saat nyeri haid ini mulai dari proses menstruasi. Dalam proses haid, sel-sel endometrium yang terkelupas (sloughing endometrial cells) melepaskan prostaglandin. Peningkatan kadar prostaglandin terbukti ditemukan di cairan haid perempuan dengan dismenorea berat. Kadar ini memang meningkat terutama selama dua hari pertama menstruasi.

Kontraksi otot-otot rahim saat haid membuat aliran darah ke otot rahim menjadi berkurang. Sehingga berakibat meningkatnya aktivitas rahim demi memenuhi kebutuhan aliran darah yang lancar. Selain itu otot-otot rahim yang kekurangan darah tadi akan merangsang ujung-ujung syaraf. Ini yang menyebabkan rasa nyeri. Nyeri tersebut tidak hanya terasa di rahim, namun juga terasa di bagian-bagian tubuh lain.

Rasa tidak nyaman dirasakan bagian-bagian tubuh yang digunakan untuk buang air besar, buang air kecil. Juga otot-otot dasar panggul dan daerah di sekitar tulang belakang sebelah bawah. Ini disebut juga sebagai nyeri rujukan. Gejala dismenore dibedakan menjadi dua. Yakni dismenore primer dan dismenore sekunder. Umumnya, dismenore primer yang dialami remaja bukan lantaran penyakit tertentu. Melainkan lebih banyak disebabkan adanya ketidakseimbangan hormonal yang terjadi saat haid.

Untuk dismenore sekunder dapat dideteksi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Ini untuk memastikan ada tidaknya kelainan anatomis organ kandungan dan analisis hormon, terutama kadar prostaglandin darah.  Sementara dismenorea sekunder bisa ditemukan kelainan di organ kandungan seperti adenomiosis atau mioma uteri rahim dan kista endometriosis di indung telur. Atau kelainan bawaan rahim seperti rahim bersekat dan lain-lain.

Penanganan dismenore sekunder jauh lebih sulit dan mungkin saja memerlukan tindakan pembedahan. Namun bisa juga dismenore sekunder tidak dapat disembuhkan kecuali dengan pengangkatan rahim secara keseluruhan. Sedangkan untuk dismenore primer gejalanya bisa diringankan dengan mengonsumsi obat penghilang nyeri. Berolahraga, kompres dengan botol air panas, dan mandi air hangat juga dapat mengurangi rasa sakit. Bila nyeri menstruasi tidak hilang dengan obat pereda nyeri, maka kemungkinan merupakan dismenore sekunder yang disebabkan penyakit tertentu. [pengobatankistarahim.com]